Ilmu Islam

MAKNA BAHASA, ISTILAH DAN SYAR’I

Di dalam bahasa Arab sering dipakai makna menurut bahasa, menurut istilah atau menurut syariat. Apa sesungguhnya yang disebut dengan ketiga istilah itu, dan bagaimana kita memaknai dengan tepat suatu kata berbahasa Arab?

Hukum-hukum Islam bersumber dari sumber utama, yaitu al-Quran dan as-Sunnah. Keduanya adalah berbahasa Arab. Adakalanya suatu hukum itu diambil berdasarkan penggalian (istinbath) terhadap sumber-sumber syariat tersebut. Oleh karena itu orang yang ingin memahami hukum-hukum Islam, apalagi melakukan penggalian hukum, mutlak diperlukan kepiawaian dalam tata bahasa Arab. Jika tidak, besar kemungkinan akan terjerumus dalam kekeliruan, yang berujung pada kesesatan.

Disini tidak berlaku pemeo ‘apalah arti sebuah nama’, karena justru di dalam kajian hukum Islam, kata itu sendiri amat bermakna. Hal ini juga disadari oleh musuh-musuh Islam, sehingga mereka secara sengaja melakukan pemutarbalikkan kata/istilah, sekaligus mendistorsi pengertian tertentu yang berasal dari kata berbahasa Arab yang terdapat di dalam al-Quran dan Sunnah. Akibatnya, makna kata tersebut hilang ‘gregetnya’, dan tidak memiliki dampak hukum apapun terhadap kaum Muslim, meski sesungguhnya kata tersebut memiliki makna syariat.

Contoh pemutarbalikkan dan pendistorsian kata/istilah adalah memalingkan makna kata yang bersifat syar’i menjadi bermakna bahasa yang tidak memiliki implikasi hukum. Misalnya, kata jihad yang diartikan secara syariat sebagai al-qital atau al-ghazwu (perang dan bertempur) dipalingkan artinya ke makna bahasa yaitu bersungguh-sungguh. Sehingga orang yang membangun disebut dengan jihad, orang yang sungguh-sungguh belajar juga termasuk jihad, seorang isteri yang berbakti kepada suaminya juga termasuk jihad, seorang guru yang rajin mengajar juga dianggap berjihad. Padahal, jihad adalah kewajiban yang terhadap pelakunya diganjar dengan pahala yang sangat besar, dan orang yang gugur di medan jihad termasuk sebagai syahid yang memiliki implikasi-implikasi hukum lainnya. Itu semua karena jihad fi sabilillah –menurut syariat- dimakna sebagai perang melawan orang-orang kafir untuk meninggikan kalimat Allah. Yang berbahaya justru lama kelamaan kaum Muslim menganggap lebih baik menyibukkan diri dengan membangun, mengajar, belajar, mengurusi rumah tangga, bekerja, dari pada berjihad fi sabilillah membantu saudara-saudara sesama muslim yang negerinya dicaplok oleh negara-negara kafir.

Kata Islam, yang arti menurut syariatnya adalah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw, dipalingkan artinya menjadi makna menurut bahasa, yaitu berserah diri atau tunduk/patuh. Artinya –menurut pihak yang menyelewengkan arti ini- para penganur agama Yahudi, Nasrani, bahkan orang-orang Budha dan Hindu pun adalah orang-orang muslim (yaitu berserah diri kepada Tuhan). Muaranya adalah munculnya persepsi keliru dimana semua agama itu sama, karena berasal dari para Nabi. Dan banyak lagi istilah/kata yang dengan sengaja diselewengkan pengertiannya, dari pengertian menurut syariat menjadi pengertian menurut bahasa.

Pemutarbalikkan pengertian dari suatu kata tidak boleh terjadi, karena kata adalah untaian huruf yang memiliki arti atau makna-makna tertentu yang tidak bisa ditujukan pada selain yang dimaksudkannya. Al-Quran memaparkan contoh ‘salah kaprah’ yang dipakai oleh orang-orang Arab waktu itu dengan menyamakan istilah/kata riba dengan bai’ (jual beli). Firman Allah Swt:

]الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا[

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran tekanan penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (TQS. al-Baqarah [2]: 275)

Islam melarang penggunaan istilah dengan makna yang tidak sesuai dengan maksud yang sebenarnya dari istilah tersebut1.

Orang-orang Arab di dalam mengungkapkan makna menemouhnya melalui berbagai bentuk (ungkapan), yaitu: hakikat (arti sebenarnya), majaz (kata kiasan), ta’rib (Arabisasi dari kata lain), dan isytiqaq (pecahan kata)2. Hakikat ini terbagi menjadi tiga jenis, yaitu hakikat lughawiyah (menurut makna bahasa), hakikat ‘urfiyah (menurut makna istilah/kebiasaan orang), dan hakikat syar’iyah (menurut makna syara).

Hakikat (arti yang sebenarnya) yaitu lafadz-lafadz yang diciptakan untuk menunjukkan makna yang ada di dalam benak manusia. Apabila lafadz yang diciptakan itu digunakan untuk makna yang telah dibuat oleh ahli bahasa, maka disebut dengan hakikat lughawiyyah. Contohnya adalah bahr berarti laut, asad berarti singa.

Apabila makna yang telah diciptakan itu digunakan untuk selain makna asalnya (bukan arti yang sebenarnya), yakni dipindahkan dari makna lughawi menuju makna lain, maka perlu diperhatikan beberapa hal. Jika pemindahan makna tersebut disebabkan adanya ‘urf (kebiasaan) maka dinamai dengan hakikat ‘urfiyah. Misalnya kata dâbbah yang asalnya diciptakan untuk menunjukkan arti setiap makhluk yang berjalan di muka bumi, mencakup manusia dan hewan. Akan tetapi kebiasaan ahli bahasa (‘urf) digunakan untuk hewan yang berkaki empat. Implikasinya, makna yang pertama dijauhi. Contoh lain adalah kata al-ghaith yang pada asalnya diciptakan untuk memberikan arti tempat yang rendah di permukaan bumi. Tetapi kemudian lebih populer -menurut kebiasaan ahli bahasa- dan digunakan untuk benda yang menjijikkan (faeses) yang keluar dari dubur. Contoh yang pertama adalah nama yang diciptakan untuk makna umum, kemudian menjadi khusus sesuai dengan kebiasaan penggunaan ahli bahasa pada sebagian maknanya. Sedangkan contoh kedua adalah nama yang dibuat untuk suatu makna yang kemudian lebih populer digunakan untuk makna lain karena adanya kebiasaan ahli bahasa (‘urf).

Jika suatu kata/istilah memiliki pengertian bahasa, ‘urfi dan syar’i, maka yang didahulukan –berdasarkan urutannya- adalah: makna hakiki yang syar’i, kemudian makna hakiki yang ‘urfi, lalu baru makna hakiki lughah3. Dalam kasus semacam ini, penggunaan makna bahasa harus memerlukan adanya indikasi (qarinah). Contoh masyhurnya adalah kata shalat. Kata ini memiliki tiga jenis pengertian tadi. Kata shalat harus dimaknai berdasarkan makna syar’i –sesuai dengan skala prioritas pemaknaan-, yaitu serangkaian perbuatan yang didahului oleh takbir dan diakhiri dengan salam. Apabila shalat akan dimaknai menurut bahasa (lughah), hal ini memerlukan indikasi (qarinah). Contoh kata shalat yang bermakna do’a terdapat pada ayat:

]خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ
إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ[

Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (TQS. at-Taubah [9]: 103)

Kata shalat pada ayat ini dimaknai dengan doa, bukan shalat menurut makna syar’i.

Bisa dibayangkan jika jihad hanya dimaknai dengan kerja yang sungguh-sungguh, bukan perang fi sabilillah; shalat diartikan sebatas doa, bukan serangkaian aktivitas ubidiyah yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam; shaum yang dimaknai dengan menahan diri, bukan dilandasi dengan niat dan mengisinya dengan aktivitas ibadah; Islam dipersepsikan dengan kepasrahan diri, bukan agama/din yang diturunkan Allah kepada Muhammad saw yang berisi akidah dan syariat Islam yang wajib dijalankan oleh para pemeluknya; dan lain-lain.

Dengan demikian, kita bisa mengerti urgensitas penggunaan istilah syar’i dibandingkan dengan pemaknaan menurut bahasa, sehingga terhindar dari kesalahan di dalam menafsirkan teks nash al-Quran maupun hadits. Pemutarbalikkan makna dan pendistorsian makna yang dilakukan oleh segelintir orang yang menamakan dirinya ‘intelektual muslim modern’ pada hakekatnya merupakan bentuk penyesatan secara sengaja untuk menggiring umat Islam menjauhi pengertian yang benar terhadap suatu kata/istilah syar’i, yang pada akhirnya bertujuan untuk mengubur pelaksanaan syariat Islam dalam-dalam.
____________________________________________
1 Muhammad Hussain Abdullah., Mafahim Islamiyah II., p. 10., Darul Bayariq

2 Atha bin Khalil., Taisir al-Wushul ila al-Ushul., p. 121., Darul Ummah

3 Muhammad Hussain Abdullah., Mafahim Islamiyah II., p. 8., Darul Bayariq

This entry was posted in Apa itu Islam ? and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s